Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Harus bersikap seperti apa lagi. Andaikan aku seorang Pendekar mungkin sudah semua jurus aku keluarkan. Andaikan aku Ultraman mungkin lampu didadanya sudah berkedip kencang dan berbunyi keras. Dan entah ungkapan apa lagi untuk menggabamkar posisi ku saat ini. Memang begini keadaannya.

Aku. Ya memang aku. Kamu ya memang kamu. Aku sadar manusia diciptakan berbeda dengan sifat dan wataknya masing-masing. Tapi entah kenapa rasanya ada semacam gerakan dalam jiwa ini untuk mendobrak memberontak dan memaksa melawan semua ini. Aku ini laki-laki bukan sepatutnya merintih menangis. Apalagi aku ini adalah seorang Pendekar.

Aku seakan terbagi menjadi dua bagian antara hati dan pikiran. Hati yang ingin terus menyayangimu walaupun entah bagaimana bentuk hati itu nantinya. Pikiran yang mungkin sadah mencapai garis finish. Tetapi bukan finish kemenangan melainkan garis finish karena aku menyerah aku kalah. Kata orang sabar ada batasnya walaupun aku tidak setuju akan hal itu. Tapi memang begini keadaannya sekarang.

Sabar. Satu kata yang senantiasa aku pegang teguh untuk melawan (mu). Tetapi ketika sabar itu sudah dianggap biasa dan tidak diperdulikan lagi. Apa kabar sabar? Apakah sabar itu masih segar bugar dalam diriku ataupun sudah sakit-sakitan karena ini. Entahlah sampai kapan aku mampu jadi seperti aku biasanya.

Aku tidak tahu menurut (mu) sabar itu seperti apa. Aku juga tidak tahu aku ini orang yang bagaimana menurut (mu). Sudah berapa kata maaf aku minta tak terhitung hingga mungkin aku tak tahu maaf untuk apa. Dan juga hingga mungkin kata maaf itu terdengar sangat membosankan buat (mu).

Andaikan benar maaf itu sangat membosankan bagi (mu). Apakabar dengan sabar ku yah? Aku sendiri tidak tahu dan aku juga tidak berharap ada yang tahu. Biar sabar mencari jalannya sendiri. Entah untuk menyerah dan bunuh diri. Ataupun menguatkan diri menghadapi ini.

“Tukeran hati yuk biar kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku.” Sepintas kalimat itu ada benarnya tapi aku tidak mungkin. Aku hanya berharap turun kan sedikit “ilmu” (mu). Aku ini seoarang pendekar biasa bukan yang sakti mandra guna. Ilmu sabar ku belumlah sampai ke tingkat mahir.

Jika memang “ilmu” (mu) sebegitu tinggi dan tidak bisa diturunkan. Tamatlah sudah riwayah aku dengan ilmu sabar ku. Tapi aku laki-laki lebih baik mati daripada harus menyerah. Seorang Pendekar memang begitu bukan. Tapi ingat aku ini Pendekar biasa.  Tak punya daya untuk terus melawan pendekar yang memang bukan tandingannya.

Semua Pendekar pasti ingin menjadi yang sakti mandra guna. Begitu juga dengan aku. Betapa inginnya aku menajdi Pendekar seperti(mu). Ijinkan aku tetap bertarung dengan(mu) tapi dengan kondisi aku tetap hidup dengan ilmu sabar ku. Ku mohon kepada(mu) Pendekar. Ku mohon Pendekar turunkan sedikit level “ilmu” (mu). Suatu saat nanti pasti ilmu sabar ku akan bisa mengalahkan “ilmu” (mu).  

0 komentar:

Kata Sambutan

Selamat Datang di Blog saya ini dan Terima kasih telah berkunjung

Coretan Popular

Coretan Terbaru

    Sinyo di Twitter

    Coretannya Semua